Cerita semalam. “Harapan yang Tak
ikhlas”
Aku pernah
berjalan di atas bukit tak ada air tak ada rumput. Tanah terlalu kering untuk
di tapaki panas terlalu menhantam kaki dan kepalaku, aku pernah berjalan di
atas laut tak ada tanah tak ada batu, air selalu merayu menggodaku masuk ke
dalam pelukannya. Tak perlu tertawa atau menangis pada gunung dan laut karena
gunung dan laut tak punya rasa. Aku tak pernah melihat gunung menangis biarpun
matahari membakar tubuhnya. aku tak pernah melihat laut tertawa biarpun
kesejukan bersama tariannya. Tak perluh tertawa atau menangis pada gunung dan
laut karena gunung dan laut tak punya rasa.
Ada yang tak
sempat tergambarkan oleh kata ketika kita berdua hanya aku yang bisa bertanya
mungkinkah kau tau jawabnya malam jadi saksinya kita berdua diantara kata yang
tak terucap berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban
mungkinkah kita ada kesempatan ucapkan janji takan terpisah selamanya? tapi
kesempatan itu kau renggut dariku.
Apakah ku
salah menilai arti dari semua sikapmu, apakah ku salah mengharapkanmu, tak
pernah aku membayangkan bila aku memang tidak berarti dimatamu, dihatimu. Sesungguhnya
aku berharap ingin miliki dirimu untuk dapat mencintaiku, sesungguhnya hanya
dirimu wanita yang aku inginkan. Di tengah keramaian riuran indahnya dunia. Aku
merasa sangat sepi, hanya suaramu yang ingin aku dengar di kesunyian ini dan
memecahkan keheningan malam. Kemanapun aku pergi tidak ada tempat yang bisa
menghiburku, akupun semakin sepi hanya pelukmu ingin kurasa di malam yang
dingin ini dan memecahkan kebekuan. Tak pernah aku berpikir untuk berpaling
dari rasa ini walau kesepian menyiksaku, tak sedikit aku merasakan lelah
mengejarmu, walau kau telah mengambil harapan itu dariku. Di antara banyaknya
manusia berpasangan dan berbagi rasa aku hanya menyaksikannya, karena hanya
dirimu yang aku tunggu sampai kini aku bertahan dan menerima kenyataan bahwa
kau masih mencintai dia.
Selama nafasku
berhembus hanya kamu di doaku. Selama mataku memandang hanya kamu cinta matiku.
Dengarlah dunia rintihan hatiku yang terbalut dengan doaku. Inilah sumpahku
dengarlah dunia. Sumpah mati aku, hanya untukmu. Cintaku akan selalu abadi
walau takdir tak pasti kau selalu cinta matiku. Sepertinya semua terulang kembali kurasakan
semuanya begitu jelas terasa. bagaimana bisa tak mudah untuk melupakannya, tapi
kali ini ku coba mengerti cinta yang sudah tak mungkin lebih lama lagi ku
pendam. Ternyata tak semudah itu keinginan bisa terjadi tapi aku berharap
semoga masih ada harapan sekali lagi. Bisa
aku hadapi semua yang sedang terjadi,
terbiasa aku hadapi semuanya sendiri walau hanya bertepuk sebelah tangan.
Karena kau tak memberiku harapan itu. Kau telah mangambilnya.
Kalau saja aku
masih punya kesempatan untuk mendapatkan harapan yang sama atau semua yang
pernah terjadi bisa terulang lagi, tapi ternyata harapan yang ada hanya sekali,
sampai kini aku masih menunggu datangnya keajaiban yang mungkin saja bisa
memberiku harapan itu satu kali lagi, seandainya masih bisa aku dapatkan sekali
lagi, satu kali lagi karena masih tertunda dan belum semua aku katakan. Kau
harus dengar semuanya isi hatiku yang belum aku sampaikan.
Aku ingin
berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap, tapi aku tak bisa melihat
matamu. Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur. Aku ingin berdua
denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu. Aku menunggu dengan sabar di atas
sini melayang layang tergoyang angin menantikan tubuh itu. Aku mencari kamu
dalam setiap malam dalam bayang masa suram aku mencari kamu dalam setiap
langkah dalam lagu yang membisu aku mencari kamu dalam setiap ruang seperti aku
yang menunggu kabar dari angin malam, aku mencari kamu di setiap malam yang
panjang, aku mencari kamu, aku temui kamu tidak ada. Aku mencari kamu di setiap
bayang kau tersenyum padaku, aku mencari kamu aku temui kau berubah. Aku mencari
kamu dalam setiap jejak seperti aku yang menunggu kabar dari matahari aku mencari
kamu di setiap malam yang panjang. Tapi tak aku temui harapan itu.
Terang masih
saja milik malam bahkan malam yang terlarut terang sanggup menjadi terik, dan
matahri masih sedih bersandar di belakang mungkin ia belum lelah menanti
kedatangan cinta atau ia sudah bosan menanti kedatangan apapun atau teriknya
sudah tidak membangunkan kita lagi bukankah kita sudah berjanji semua selesai
ketika ada kita. Tak terasa gelap pun
jatuh di ujung malam menuju pagi yang dingin hanya ada sedikit bintang malam
ini. Lalu mataku merasa malu semakin dalam aku melukai ini kadang juga aku takut
tatkalah harus berpapasan di tengah pelarianku di malam hari menuju pagi
sedikit cemas banyak rindunya. Harum mawar di taman menusuk hingga ke dalam
sukma dan menjadi tumpuan rindu cinta darimu, disore itu menuju senja bersama
hati yang terluka tertusuk pilu mengalah luka itu di antara sunyi dan menapak
jejak kenangan yang pernah sekali kita ciptakan, di sore yang gelap di tutupi
awan bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian ada
yang mati saat itu dalam kerinduan yang tak terobati, dalam penantian harapan
yang tak akan mati. Harum mawar di taman menusuk hingga ke dalam sukma dan
menjadi tumpuan dinding cinta seseorang di soreh itu menuju senja berharap akan
ada keajaiban di malam nanti. Dear
“dmp” special
Tidak ada komentar:
Posting Komentar