Rabu, 26 Juli 2017

“Harapan yang Tak ikhlas”

Cerita semalam. “Harapan yang Tak ikhlas”
Aku pernah berjalan di atas bukit tak ada air tak ada rumput. Tanah terlalu kering untuk di tapaki panas terlalu menhantam kaki dan kepalaku, aku pernah berjalan di atas laut tak ada tanah tak ada batu, air selalu merayu menggodaku masuk ke dalam pelukannya. Tak perlu tertawa atau menangis pada gunung dan laut karena gunung dan laut tak punya rasa. Aku tak pernah melihat gunung menangis biarpun matahari membakar tubuhnya. aku tak pernah melihat laut tertawa biarpun kesejukan bersama tariannya. Tak perluh tertawa atau menangis pada gunung dan laut karena gunung dan laut tak punya rasa.
Ada yang tak sempat tergambarkan oleh kata ketika kita berdua hanya aku yang bisa bertanya mungkinkah kau tau jawabnya malam jadi saksinya kita berdua diantara kata yang tak terucap berharap waktu membawa keberanian untuk datang membawa jawaban mungkinkah kita ada kesempatan ucapkan janji takan terpisah selamanya? tapi kesempatan itu kau renggut dariku. 
Apakah ku salah menilai arti dari semua sikapmu, apakah ku salah mengharapkanmu, tak pernah aku membayangkan bila aku memang tidak berarti dimatamu, dihatimu. Sesungguhnya aku berharap ingin miliki dirimu untuk dapat mencintaiku, sesungguhnya hanya dirimu wanita yang aku inginkan. Di tengah keramaian riuran indahnya dunia. Aku merasa sangat sepi, hanya suaramu yang ingin aku dengar di kesunyian ini dan memecahkan keheningan malam. Kemanapun aku pergi tidak ada tempat yang bisa menghiburku, akupun semakin sepi hanya pelukmu ingin kurasa di malam yang dingin ini dan memecahkan kebekuan. Tak pernah aku berpikir untuk berpaling dari rasa ini walau kesepian menyiksaku, tak sedikit aku merasakan lelah mengejarmu, walau kau telah mengambil harapan itu dariku. Di antara banyaknya manusia berpasangan dan berbagi rasa aku hanya menyaksikannya, karena hanya dirimu yang aku tunggu sampai kini aku bertahan dan menerima kenyataan bahwa kau masih mencintai dia.  
Selama nafasku berhembus hanya kamu di doaku. Selama mataku memandang hanya kamu cinta matiku. Dengarlah dunia rintihan hatiku yang terbalut dengan doaku. Inilah sumpahku dengarlah dunia. Sumpah mati aku, hanya untukmu. Cintaku akan selalu abadi walau takdir tak pasti kau selalu cinta matiku.  Sepertinya semua terulang kembali kurasakan semuanya begitu jelas terasa. bagaimana bisa tak mudah untuk melupakannya, tapi kali ini ku coba mengerti cinta yang sudah tak mungkin lebih lama lagi ku pendam. Ternyata tak semudah itu keinginan bisa terjadi tapi aku berharap semoga masih ada harapan  sekali lagi. Bisa aku hadapi semua yang  sedang terjadi, terbiasa aku hadapi semuanya sendiri walau hanya bertepuk sebelah tangan. Karena kau tak memberiku harapan itu. Kau telah mangambilnya.  
Kalau saja aku masih punya kesempatan untuk mendapatkan harapan yang sama atau semua yang pernah terjadi bisa terulang lagi, tapi ternyata harapan yang ada hanya sekali, sampai kini aku masih menunggu datangnya keajaiban yang mungkin saja bisa memberiku harapan itu satu kali lagi, seandainya masih bisa aku dapatkan sekali lagi, satu kali lagi karena masih tertunda dan belum semua aku katakan. Kau harus dengar semuanya isi hatiku yang belum aku sampaikan.
Aku ingin berjalan bersamamu dalam hujan dan malam gelap, tapi aku tak bisa melihat matamu. Aku ingin berdua denganmu di antara daun gugur. Aku ingin berdua denganmu tapi aku hanya melihat keresahanmu. Aku menunggu dengan sabar di atas sini melayang layang tergoyang angin menantikan tubuh itu. Aku mencari kamu dalam setiap malam dalam bayang masa suram aku mencari kamu dalam setiap langkah dalam lagu yang membisu aku mencari kamu dalam setiap ruang seperti aku yang menunggu kabar dari angin malam, aku mencari kamu di setiap malam yang panjang, aku mencari kamu, aku temui kamu tidak ada. Aku mencari kamu di setiap bayang kau tersenyum padaku, aku mencari kamu aku temui kau berubah. Aku mencari kamu dalam setiap jejak seperti aku yang menunggu kabar dari matahari aku mencari kamu di setiap malam yang panjang. Tapi tak aku temui harapan itu.
Terang masih saja milik malam bahkan malam yang terlarut terang sanggup menjadi terik, dan matahri masih sedih bersandar di belakang mungkin ia belum lelah menanti kedatangan cinta atau ia sudah bosan menanti kedatangan apapun atau teriknya sudah tidak membangunkan kita lagi bukankah kita sudah berjanji semua selesai ketika ada kita.  Tak terasa gelap pun jatuh di ujung malam menuju pagi yang dingin hanya ada sedikit bintang malam ini. Lalu mataku merasa malu semakin dalam aku melukai ini kadang juga aku takut tatkalah harus berpapasan di tengah pelarianku di malam hari menuju pagi sedikit cemas banyak rindunya. Harum mawar di taman menusuk hingga ke dalam sukma dan menjadi tumpuan rindu cinta darimu, disore itu menuju senja bersama hati yang terluka tertusuk pilu mengalah luka itu di antara sunyi dan menapak jejak kenangan yang pernah sekali kita ciptakan, di sore yang gelap di tutupi awan bersama setangkup bunga cerita yang kian merambat di dinding penantian ada yang mati saat itu dalam kerinduan yang tak terobati, dalam penantian harapan yang tak akan mati. Harum mawar di taman menusuk hingga ke dalam sukma dan menjadi tumpuan dinding cinta seseorang di soreh itu menuju senja berharap akan ada keajaiban di malam nanti.    Dear “dmp” special



Tidak ada komentar: